1. Yaumul akhir secara bahasa artinya hari terakhir. sedangkan menurut istilah mempercayai apa yang akan terjadi pada hari itu mulai kebangkitan, hisab/pembalasan, sampai ada/tidaknya surga dan neraka (ada di QS Al-Zalzalah : 7-8).
2. Bukti-bukti perhatian Al-Quran tentang adanya hari itu:
2.1. Selalu digandengkan antara keimanan hari akhir dengan keimanan kepada Allah swt.
>>>QS Al-Baqarah : 4 (keimanan kepada hari akhir itu menempati urutan terakhir)
>>>QS Al-Baqarah : 177 (keimanan kepada hari akhir itu menempati urutan ke-2)
>>>QS An-Nisa : 162 (keimanan kepada hari akhir itu menempati urutan terakhir)
2.2. Banyak ayat di Al-Quran yang menggambarkan tentang kejadian di hari akhir.
2.3. Banyak sekali nama lain dari hari kiamat. Contohnya, Al-Haqqah, Al-Qari'ah (ketukan yang snagat kencang), Al-Zalzalah (kegoncangan), dan lain-lain.
3. Sebab perhatian Al-Quran terhadap hari kiamat sangat besar:
3.1. Ketika Rasulullah saw diutus dan menyebutkan tentang hari kiamat orang-orang musyrik selalu mengingkari (QS Al-Isra :49)
3.2. Orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) percaya terhadap hari kiamat tetapi kepercayaan mereka salah. Mereka menganggap bahwa setiap manusia yang bersalah akan dimasukkan ke dalam neraka melainkan hanya sebentar saja. Ada lagi sebagian dari golongan yang menganggap bahwa setiap manusia yang meninggal tidak akan merasakan sakitnya neraka. Maka dari itu, Al-Quran mebetulkan pemahaman mereka yang salah tersebut dengan Firman Allah swt yang terdapat dalam QS Al-Baqarah : 80 & 111.
3.3. Supaya manusia menjadikan hari kiamat ini sebagai tujuan utama dalam kehidupan di dunia.
4. Efek dari beriman kepada hari kiamat:
4.1. Semangat dalam melaksanakan ketho'atan
4.2. Takut berbuat maksiat/ridho dengan kemaksiatan
4.3. Tidak akan merasa sedih dengan apa yang tidak kita dapatkan
4.4. Menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar
4.5. Menumbuhkan akhlak mulia yang hakiki
4.6. Akan selalu mengedepankan akhirat daripada dunia dan sabar atas segala cobaan.
So, the point is.....kalo mau masuk surga kuncinya cuma satu TAWAKAL.
Showing posts with label rohani. Show all posts
Showing posts with label rohani. Show all posts
Thursday, January 26, 2012
Tuesday, August 23, 2011
Maafkan Kami Ya Rasulullah..
Memasuki hari ke-21 puasa, seusai sahur aku dan ibuku berniat untuk menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid komplek rumah kami. Entah kenapa kami sangat berkeinginan untuk shalat subuh berjamaah di masjid komplek saat itu, setelah sebelumnya jarang sekali kami shalat subuh berjamaah di masjid itu. Kebetulan memang hari itu adalah hari ahad yang mana setiap hari itu ada ceramah subuh setelah dilaksanakannya shalat subuh berjamaah. Jadi selain kami ingin mengikuti shalat subuh berjamaah, kami sangat mengharapkan mendapat siraman rohani yang akan disampaikan oleh Ustadz di masjid tersebut.
Setelah sampai di masjid, aku dan ibuku pun langsung menyusul masuk ke dalam shaf karena sudah tertinggal satu rakaat. Seusai shalat subuh, tak sabar aku ingin segera mendengarkan tausiyah yang akan disampaikan oleh Ustadz yang bernama Ustadz Fatah itu. Setelah beberapa menit berlangsung, akhirnya Sang Ustadz pun memulai ceramahnya. Tema yang disampaikannya adalah tentang Fiqih Shalat Idul Fitri. Di awal aku sebenarnya sudah merasakan sesuatu yang kurang tepat sasaran dengan pemilihan temanya, pasalnya materi yang disampaikan banyak mengandung hadits-hadits nabi dan sedikit sekali uraian penjelasan dari Ustadz tentang materi yang disampaikan. Terlebih aku tahu betul bahwa jamaah di komplek ku masih awam dan belum banyak yang paham tentang kandungan hadits apalagi tafsir hadits.
Perasaanku semakin tidak nyaman ketika sang ustadz menyampaikan riwayat hadits tentang tata cara takbiran. Bahwa terdapatnya kesalahan yang selama ini dilakukan oleh banyak orang Islam tentang tata cara takbiran dari mulai lafadz yang dilafalkan sampai tata cara takbiran. Tapi aku berharap apa yang aku khawatirkan tidak terjadi sampai selesainya ceramah subuh.
Setelah sang Ustadz selesai menyampaikan ceramahnya di bukalah sesi diskusi bagi jamaah yang ingin mengajukan pertanyaan. Dan sudah kuduga orang pertama yang mengacungkan tangan adalah orang itu. Ya, dia adalah seorang bapak berperawakan tinggi besar yang merupakan warga RT 09 yang selama ini dikenal paling vokal dan kritis terhadap perkembangan Islam dan khususnya perkembangan dakwah di komplek kami. Dalam pertanyaannya beliau menyampaikan ketidakpuasannya dan kekecewaannya atas materi yang telah disampaikan oleh sang Ustadz. Bahkan beliau mengancam sang ustadz untuk memberikan nomor kontak pribadi untuk selanjutnya akan dilaporkan ke Majelis Ulama Indonesia atas penyampaian materi yang belum tentu benar menurutnya. Isi pikirannya itu disampaikannya dengan nada tinggi seolah terkesan beliau berusaha menyudutkan sang ustadz. Tapi jawaban sang ustadz sangat sederhana, tanpa terpancing emosi dan senantiasa tersenyum Ustadz itu mengajak kami untuk berdiskusi dengannya di lain kesempatan tentang isi hadits dan perawi yang meriwayatkan seakan beliau ingin menegaskan bahwa apa yang ia sampaikan adalah benar sesuai hadits shahih terpilih yang kecil kemungkinannya untuk diragukan. Pernyataan Ustadz terebut sekaligus menjawab kekecewaan penanya pertama tadi yang meragukan materi yang disampaikan. Tapi jawaban sang ustadz belum memuaskan hati si penanya. Hingga perdebatan mereka terus bergulir selama beberapa menit, dan dipotong dengan pertanyaan seorang ibu kepada sang Ustadz. Aku kurang menangkap pertanyaan si Ibu itu karena masih terbawa suasana yang masih panas antara Ustadz dengan penanya pertama. Tapi pada dasarnya niat si Ibu untuk bertanya ini adalah betul-betul untuk mencari tahu apa yang tidak diketahuinya bukan bertujuan menyudutkan apalagi memojokkan materi yang disampaikan oleh sang Ustadz. Setelah semua pertanyaan si Ibu dijawab oleh Ustadz, kemudian sang ustadz kembali menyarankan kepada penanya pertama untuk mengkaji Kitab Ibnu Katsir yang berlandaskan Mazhab Imam Syafi’i. oh..God…rasanya saat itu aku ingin meneriakkan kpd sang Ustadz “STOP” jangan di sampaikan. Ternyata apa yang aku takutkan terjadi juga. Salah seorang jamaah bapak-bapak yang berperawakan gemuk dan berkumis langsung berteriak “Apa itu mazhab2? Aliran apa ini? Sudah…sudah..tutup saja ceramahnya,,jangan dipanggil lagi ustadz ini, siapa yang manggil ustadz ini kesini? Beni!!! Kamu yang panggil ustadz ini kan? Jangan dipanggil lagi ustadz yang kaya begini!! Tutup saja ceramahnya. Ini masjid komplek, bukan masjid satu golongan. Jangan coba2 memasukkan golongan ke masjid ini!!” Jegher…seperti itulah kondisi hatiku saat mendengar kalimat itu dan mungkin dialami juga oleh sebagian besar jamaah yang masih berada di dalam masjid. Tidak berhenti sampai di situ, bapak2 berkumis tadi langsung berdiri dan berjalan mendekati Ustadz tersebut. Ia memaki dan mengusir sang Ustadz dengan nada suara keras yang tidak selayaknya perilaku tersebut dipertontonkan di depan para jamaah lain dan bertempat di tempat yang paling agung, yaitu Rumah Allah. Beberapa jamaah ikhwan pun bergegas berdiri di dekat Sang Ustadz seketika bapak2 itu berjalan mendekatinya berupaya melindungi Ustadz jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kami para jamaah Ibu-ibu hanya bisa berteriak “Pak, puasa pak, istighfar…istighfar…” berharap dapat meredam emosi si bapak2 itu. Tapi upaya itu tidak berhasil. Akhirnya bapak2 itu dirangkul sambil digiring keluar oleh salah seorang jamaah ikhwan yang berusaha meredam suasana. Dan..bagaimana respon sang Ustadz saat itu, dia hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sepertinya sang Ustadz itu sudah tahu apa yang akan dia terima setelah menyampaikan isi ceramahnya. Sambil menutup kitab setebal kurang lebih 10 cm nya itu, beliau tetap tersenyum lebar tanpa ada sedikitpun guratan dendam atau amarah yang terlihat. Subhanallah. Maha Suci Allah yang Maha Lembut.
Sepulang dari masjid aku dan ibuku masih membicarakan tragedi yang baru saja kami saksikan itu. Satu hal yang menjadi pelajaran bagiku…Bahwa janganlah kita mengolok-olok suatu kaum atau golongan tertentu, karena belum tentu golongan yang kita olok-olok itu lebih buruk dari kita. Bisa jadi golongan yang kita anggap buruk itulah yang dimuliakan oleh Allah swt. Wallahua’lam. Semoga menjadi hikmah bagi kita semua. Dan semakin menambah keimanan kita pada Rasulullah saw…betapa tidak,,baru diolok2 seperti itu saja kita mungkin tidak sanggup menerimanya. Bagaimana kalau hinaan yang kita terima seperti yang dialami oleh Rasulullah saw yaitu dilempari kotoran, disangka tukang ramal, orang gila, bahkan sempat diancam untuk dibunuh. MasyaALLAH…maafkan umatmu ini Ya Rasulullah..kami hanya mampu mensyiarkan ajaranmu..tapi belum bisa menjadi pintu hidayah bagi umatmu yang lain..Astaghfirullah.
Setelah sampai di masjid, aku dan ibuku pun langsung menyusul masuk ke dalam shaf karena sudah tertinggal satu rakaat. Seusai shalat subuh, tak sabar aku ingin segera mendengarkan tausiyah yang akan disampaikan oleh Ustadz yang bernama Ustadz Fatah itu. Setelah beberapa menit berlangsung, akhirnya Sang Ustadz pun memulai ceramahnya. Tema yang disampaikannya adalah tentang Fiqih Shalat Idul Fitri. Di awal aku sebenarnya sudah merasakan sesuatu yang kurang tepat sasaran dengan pemilihan temanya, pasalnya materi yang disampaikan banyak mengandung hadits-hadits nabi dan sedikit sekali uraian penjelasan dari Ustadz tentang materi yang disampaikan. Terlebih aku tahu betul bahwa jamaah di komplek ku masih awam dan belum banyak yang paham tentang kandungan hadits apalagi tafsir hadits.
Perasaanku semakin tidak nyaman ketika sang ustadz menyampaikan riwayat hadits tentang tata cara takbiran. Bahwa terdapatnya kesalahan yang selama ini dilakukan oleh banyak orang Islam tentang tata cara takbiran dari mulai lafadz yang dilafalkan sampai tata cara takbiran. Tapi aku berharap apa yang aku khawatirkan tidak terjadi sampai selesainya ceramah subuh.
Setelah sang Ustadz selesai menyampaikan ceramahnya di bukalah sesi diskusi bagi jamaah yang ingin mengajukan pertanyaan. Dan sudah kuduga orang pertama yang mengacungkan tangan adalah orang itu. Ya, dia adalah seorang bapak berperawakan tinggi besar yang merupakan warga RT 09 yang selama ini dikenal paling vokal dan kritis terhadap perkembangan Islam dan khususnya perkembangan dakwah di komplek kami. Dalam pertanyaannya beliau menyampaikan ketidakpuasannya dan kekecewaannya atas materi yang telah disampaikan oleh sang Ustadz. Bahkan beliau mengancam sang ustadz untuk memberikan nomor kontak pribadi untuk selanjutnya akan dilaporkan ke Majelis Ulama Indonesia atas penyampaian materi yang belum tentu benar menurutnya. Isi pikirannya itu disampaikannya dengan nada tinggi seolah terkesan beliau berusaha menyudutkan sang ustadz. Tapi jawaban sang ustadz sangat sederhana, tanpa terpancing emosi dan senantiasa tersenyum Ustadz itu mengajak kami untuk berdiskusi dengannya di lain kesempatan tentang isi hadits dan perawi yang meriwayatkan seakan beliau ingin menegaskan bahwa apa yang ia sampaikan adalah benar sesuai hadits shahih terpilih yang kecil kemungkinannya untuk diragukan. Pernyataan Ustadz terebut sekaligus menjawab kekecewaan penanya pertama tadi yang meragukan materi yang disampaikan. Tapi jawaban sang ustadz belum memuaskan hati si penanya. Hingga perdebatan mereka terus bergulir selama beberapa menit, dan dipotong dengan pertanyaan seorang ibu kepada sang Ustadz. Aku kurang menangkap pertanyaan si Ibu itu karena masih terbawa suasana yang masih panas antara Ustadz dengan penanya pertama. Tapi pada dasarnya niat si Ibu untuk bertanya ini adalah betul-betul untuk mencari tahu apa yang tidak diketahuinya bukan bertujuan menyudutkan apalagi memojokkan materi yang disampaikan oleh sang Ustadz. Setelah semua pertanyaan si Ibu dijawab oleh Ustadz, kemudian sang ustadz kembali menyarankan kepada penanya pertama untuk mengkaji Kitab Ibnu Katsir yang berlandaskan Mazhab Imam Syafi’i. oh..God…rasanya saat itu aku ingin meneriakkan kpd sang Ustadz “STOP” jangan di sampaikan. Ternyata apa yang aku takutkan terjadi juga. Salah seorang jamaah bapak-bapak yang berperawakan gemuk dan berkumis langsung berteriak “Apa itu mazhab2? Aliran apa ini? Sudah…sudah..tutup saja ceramahnya,,jangan dipanggil lagi ustadz ini, siapa yang manggil ustadz ini kesini? Beni!!! Kamu yang panggil ustadz ini kan? Jangan dipanggil lagi ustadz yang kaya begini!! Tutup saja ceramahnya. Ini masjid komplek, bukan masjid satu golongan. Jangan coba2 memasukkan golongan ke masjid ini!!” Jegher…seperti itulah kondisi hatiku saat mendengar kalimat itu dan mungkin dialami juga oleh sebagian besar jamaah yang masih berada di dalam masjid. Tidak berhenti sampai di situ, bapak2 berkumis tadi langsung berdiri dan berjalan mendekati Ustadz tersebut. Ia memaki dan mengusir sang Ustadz dengan nada suara keras yang tidak selayaknya perilaku tersebut dipertontonkan di depan para jamaah lain dan bertempat di tempat yang paling agung, yaitu Rumah Allah. Beberapa jamaah ikhwan pun bergegas berdiri di dekat Sang Ustadz seketika bapak2 itu berjalan mendekatinya berupaya melindungi Ustadz jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kami para jamaah Ibu-ibu hanya bisa berteriak “Pak, puasa pak, istighfar…istighfar…” berharap dapat meredam emosi si bapak2 itu. Tapi upaya itu tidak berhasil. Akhirnya bapak2 itu dirangkul sambil digiring keluar oleh salah seorang jamaah ikhwan yang berusaha meredam suasana. Dan..bagaimana respon sang Ustadz saat itu, dia hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sepertinya sang Ustadz itu sudah tahu apa yang akan dia terima setelah menyampaikan isi ceramahnya. Sambil menutup kitab setebal kurang lebih 10 cm nya itu, beliau tetap tersenyum lebar tanpa ada sedikitpun guratan dendam atau amarah yang terlihat. Subhanallah. Maha Suci Allah yang Maha Lembut.
Sepulang dari masjid aku dan ibuku masih membicarakan tragedi yang baru saja kami saksikan itu. Satu hal yang menjadi pelajaran bagiku…Bahwa janganlah kita mengolok-olok suatu kaum atau golongan tertentu, karena belum tentu golongan yang kita olok-olok itu lebih buruk dari kita. Bisa jadi golongan yang kita anggap buruk itulah yang dimuliakan oleh Allah swt. Wallahua’lam. Semoga menjadi hikmah bagi kita semua. Dan semakin menambah keimanan kita pada Rasulullah saw…betapa tidak,,baru diolok2 seperti itu saja kita mungkin tidak sanggup menerimanya. Bagaimana kalau hinaan yang kita terima seperti yang dialami oleh Rasulullah saw yaitu dilempari kotoran, disangka tukang ramal, orang gila, bahkan sempat diancam untuk dibunuh. MasyaALLAH…maafkan umatmu ini Ya Rasulullah..kami hanya mampu mensyiarkan ajaranmu..tapi belum bisa menjadi pintu hidayah bagi umatmu yang lain..Astaghfirullah.
Tuesday, September 23, 2008
Pemuda Kahfi
Pemuda kahfi, satu kata yang menginspirasi setiap jiwa yang mendengarnya, satu istilah yang memberi ruh perubahan bagi generasi yang menentang penindasan dan keterpaksaan. Sehingga dari satu kata tersebut lahir pernyataan dari salah seorang sahabat Rasulullah saw “Berikan aku satu pemuda, maka akan ku bangun negeri ini”. Itulah gambaran umum seorang pemuda dengan sifat dan karakteristiknya yang unik dan sulit terinterpretasikan hanya dari satu sudut pandang saja. Seorang pemuda mampu memberikan inspirasi dan motivasi baik bagi dirinya maupun komunitas secara umum. Jika kita menilik kembali 63 tahun silam saat Bung Karno memproklamasikan Kemerdekaan RI, tentu itu semua tidak lepas dari dukungan dan sokongan para pemuda saat itu untuk memperjuangkan kmerdekaan RI yang hampir jatuh ke bangsa lain.
Pemuda kahfi sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan, karena dengannya ada tindak-tindak nyata, ada kerja-kerja nyata yang terorgansisir ada perencanaan yang tersusun rapi dan ada strategi penyelesaian masalah yang penuh pertimbangan matang. Pemuda sebagai agen perubahan memiliki azzam yang kuat, tekad yang tak tergoyahkan dan daya analisis yang tajam. Karenanya para pemuda sering dijuluki sebagai motor perubahan dengan ideologi yang mantap dan konsistensi perjuangan yang teguh. Hal tersebut dapat terlihat kala para pemuda yang mengatasnamakan mahasiswa beberapa kali berhasil menumbangkan rezim pemerintahan Orde lama (tahun 1966) dan Orde baru (tahun 1998). Fenomena tersebut terjadi karena pemuda khususnya mahasiswa memiliki apa yang disebut dengan “political power” dan “political control”. Pemuda layak menyandang sebutan tersebut karena dengan kapasitasnya yang mampu menganalisis setiap kebijakan penguasa yang dirasa tidak adil atau tidak memihak terhadap kepentingan rakyatnya.

Tapi itu dulu…itu terjadi beberapa tahun silam. Saat semangat-semangat para pemuda kahfi berkobar menyatu layaknya kobaran api yang mampu menghentakkan setiap mata yang melihatnya, memberi rasa takut pada setiap penguasa negeri yang zhalim, dan menyeret kekaguman seluruh elemen komunitas yang sejalan dengan tindakan para pemuda. Kini…pemandangan itu tak ada lagi. Majelis-majelis kajian politik dan kebijakan mengalami penurunan peminat, begitu juga saat demonstrasi mahasiswa menyuarakan keadilan, selalu kurang dari target awal yang direncanakan. Kemana? Kemana para pemuda yang dulu menggaungkan kebebasan berargumen, menolak ketidakadilan dan ketimpangan sosial??? Setelah serentetan masalah-masalah sosial dan ekonomi bertandang satu demi satu. Kini rakyat hanya bisa menunggu kapan nasibnya akan berubah lebih baik, rakyat hanya bisa memperjuangkan nasib mereka sendiri tanpa prediksi berhasil tidaknya perjuangan mereka. Karena kaum mudanya lebih memilih menyibukkan diri untuk meraih gelar pendidikan tertinggi. Sebagian mengartikan perjuangan sebagai proses yang panjang yang tidak tahu dimana ujungnya. Sehingga sebagian lagi mengatakan perjuangan yang panjang hanya akan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang tersisa. Yang hasil dan outputnya tidak jelas kapan, bagaimana, dan siapa yang menerimanya. Seandainya para pemuda tahu betapa pentingnya peran mereka dalam melakukan agenda besar perubahan bangsa. Tentu mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan selama mereka masih menjadi pemuda. Pemuda kahfi yang organisatif berbasis intelektualitas mendalam, pemuda yang dengan kekuatan ieologinya mampu menjadikan azzam dan tekad yang solid sebagai bahan bakar motor perubahan. Akan tetapi muncul satu pertanyaan relevan akan pernyataan tersebut :
Azzam tak terpatahkan para pemuda, masih adakah???
Subscribe to:
Posts (Atom)